Panjang punjung pasir wukir loh jinawi. Gemah ripah karta tata raharja. Tan wonten para kawula kang nindakaken lampah durjana…. Demikian antara lain janturan yang biasanya diucapkan dalang pada adegan pertama pergelaran wayang kulit purwa. Sementara itu dalam adegan tapa brata atau samadi seseorang tokoh, biasanya dalang mengucapkan naturan sebagai berikut: Nalika semana wus sidhakep saluku tunggal, nutupi babahan hawa sanga mandeng puncaking grana, mawas mahya menjinging buswa. Pancasila kesthi, sekawan kang binungkas, sajuga kang sinidhikara, kinarya nut laksining brata. Pranyata Hwu-ning sembada pralebeting patrap pangulah lenging subrata. Mangkya sang parameng kayun, kang kayungyun angayomi ayahaning. Paramatman, yayah wus umanjing turyan, sawang lena jroning urip, sang atma lir lagnyana, dan seterusnya.

JANTURAN dalam adegan pergelaran wayang kulit purwa, seperti di atas, ternyata hanya salah satu contoh adanya kandungan nilai adiluhung dan makna filosofis dalam pergelaran wayang kulit. Contoh lainnya adalah adanya Dhodhogan yang dilakukan para dalang ketika akan memulai pergelaran wayang (memulai adegan pertama atau Jejer Sepisan). Konon, Gagrak Jawa Timur dan Surakarta umumnya menggunakan dhodhog pitu (dhodhogan sebanyak tujuh kali), sedangkan Gagrag Yogyakarta menggunakan Dhodhog Lima. Hal itu seperti diajarkan di Sekolah Pedhalangan Kraton Yogyakarta, Hanganakake Biwara Rancangan Dhalang (Habirandha).

Dalam perkembangannya, para dalang mengembangkan Dhodhogan sendiri-sendiri, sesuai pemahaman masing-masing dalang terhadap makna pengadegan (jejer), khususnya Jejer Sepisan. Ki Hadi Sugito (almarhum, misalnya, biasanya menggunakan Dhodhog Sanga. Menurut Ki Edi Suwondo, dalang yang tinggal di Pajangan Sleman, lima dhodhogan yang dipakai Habirandha merupakan simbol sembah raga, sembah cipta, sembah rasa, sembah budi, dan sembah karsa.

Sedangkan Dhodhog Sanga yang dipakai Ki Hadi Sugito mungkin ada hubungannya dengan Babahan Hawa Sanga. ”Yang jelas, makna filosofis yang ada dalam pergelaran wayang gagrak Yogya biasanya diartikan sebagai hubungan fertikal antara manusia dengan Tuhan. Bisa juga diartikan hubungan seseorang dengan leluhurnya,” kata Ki Edi Suwondo.

Sementara itu Dhodhogan yang semula dipakai para dalang dengan gagrak Jawa Timur dan Surakarta, ada yang menghubungkannya dengan karya agung Raden Ngabehi Ranggawarsita, tentang pembagian zaman di Indonesia. Yakni Jaman Kali Swara (lamanya 700 tahun, ditandai dengan zaman yang penuh gara-gara dan kejadian-kejadian aneh, serta banyak orang yang berambisi menjadi dewa/penguasa. Jaman Kaliyaga (lamanya 700 tahun, ditandai dengan zaman yang banyak malapetaka, akeh bumi bengkah gunung njebluk. Jaman Kali Sengara (ditandai dengan zaman yang banyak terjadi udan salah mangsa, kali pindhah panggonan, banyak orang yang kesulitan mendapatkan kebahagiaan karena setiap orang ingin menang dan benar sendiri. Zaman ini juga disebut zaman akhir). Ir Sri Mulyono dalam bukunya Wayang, Asal-usul, Filsafat dan Masa Depannya (1975) juga menyebutkan bahwa karya-karya pujangga Ranggawarsita memang menempatkan Jatining Panembah.

Ki Cermo Sutejo sebagai salah satu dwija (guru) di Habirandha mengatakan, seni pedalangan dari generasi ke generasi senantiasa mengalami perubahan, seiring dengan berputarnya roda zaman. Manut jaman kelakone dan mempunyai kekhasan tersendiri. Karena itu sangat mungkin penerap-an pakem perkeliran selalu berkembang sesuai perkembangan zaman.
Disebutkan, pakem pedalangan gagrak Yogya juga mengatur urutan pengunaan pathet gendhing dalam pergelaran wayang kulit. Pathet gendhing dimaksud terdiri Pathet Nem (sekitar pukul 21.00-24.00), Pathet Sanga (24.00-03.00), dan Pathet Manyura (pukul 03.00 sampai selesai). Pergelaran wayang diakhiri dengan Pathet Galong.

Putaran pathet gendhing tersebut juga punya makna filosofis sifat manusia berdasar tingkatan usianya. Gendhing Pathet Nem membangun suasana gembira, menggambarkan sifat manusia pada usia anak-anak sampai menjelang dewasa. Gendhing Pathet Sanga membangun suasana tenang dan mentes, menggambarkan sifat manusia dewasa yang sudah menep, dan Pathet Manyura membangun suasana sumarah dan menggambarkan sifat manusia pada usia yang mendekati kembali kepada sangkan paraning dumadi. Sedangkan Pathet Galong merupakan simbol seseorang yang sudah sampai pada galenganing urip atau akhir kehidupan.

Sementara itu menurut Mas Wedana Cermagupita (Ki Basirun), pakem juga berkaitan dengan laras ontowecana ketika dalang menirukan suara masing-masing tokoh wayang, sesuai waktu atau pathet-nya, penggunaan tokoh wayang sesuai dengan pathet, sesebutan yang benar berdasarkan silsilah wayang. Contoh laras ketika jejer kapisan Ngastina, suara Prabu Duryudana harus laras nem gedhe dan rasa kendho. Sedangkan Patih Sengkuni harus laras jangga loro, rasane sajak ngglenyeng.

Penggunaan tokoh wayang yang pakem misalnya, dalam jejer 1 Dwarawati, maka tokoh Kresna yang digunakan adalah wanda rondhon (tidak yang berkulit hitam). Dalam sesebutan, misalnya, Raden Gatotkaca kepada Puntadewa menyebut uwa, karena berdasar silsilah, ia kakak Raden Werkudara. Kepada Nakula atau Sadewa, Gatotkaca menyebut Paman.

Menurut Ki Sumono Wijiatmojo, dalang yang tinggal di Kalibawang Kulonprogo, nilai-nilai luhur sebenarnya tidak hanya terdapat pada adegan pertama. Sebab dalam pergelaran wayang kulit gagrak Yogya, adegan pertama sampai adegan terakhir selalu ada misi atau pesan moralnya. ”Karena itu tidak benar kalau ada anggapan bahwa dalang Yogya tidak pernah berkembang. Sebab, para dalang dituntut selalu mampu mengaktualisasikan misi dalam setiap adegan pada pergelaran wayang,” tegasnya.

Sekretaris Daerah (Sekda) Pemerintah Kabupaten Kulonprogo, Drs H Soim MM, juga menilai bahwa seni pedalangan atau pergelaran wayang kulit merupakan salah satu seni tradisional adiluhung yang harus dipertahankan, dilestarikan dan dikembangkan. Sebab, pergelaran wayang bukan sekadar tontonan tetapi juga merupakan media tuntunan. Bahkan adegan pertama dalam pergelaran wayang sebenarnya merupakan ‘tuntunan wajib’ bagi para politisi.

”Saya menilai, adegan pertama pergelaran wayang kulit merupakan intisari tuntunan pergelaran wayang secara keseluruhan. Sebab dalam adegan pertama tersebut, dari janturan sampai dialog jejeran sarat nilai-nilai ajaran yang sangat penting, khususnya bagi para politisi. Karena itu para politisi seharusnya ‘diwajibkan’ menyaksikan dan menghayati isi adegan pertama pergelaran wayang kulit,” kata Drs H Soim MM. Untuk itu, diharapkan para dalang mampu mengemas adegan pertama pergelaran wayang kulit agar mampu menarik perhatian penonton. Nilai-nilai ajaran yang terdapat dalam adegan pertama juga harus dikemas sedemikian rupa, sehingga dapat dipahami dengan jelas oleh penonton.      (Joko Budhiarto)-m

 

About these ads