Februari 2009


untitledDecember 18th, 2005

Kenapa wayang kulit membosankan?

Saksono

Beberapa saat yang lalu, para pemerhati wayang kulit berkumpul dan berkatarsis bersama-sama. Cukup menarik memang karena kebanyakan dari mereka mengeluh tentang eksistensi wayang kulit yang kalah dengan sinetron.

Salah satu hal yang membuat wayang kulit tidak lagi menarik adalah pertunjukan ini sangat membosankan. Bagaimana tidak, semua pertunjukan wayang kulit nyaris sama persis, ada pakemnya. Sebagai gambaran, semua pertunjukan wayang kulit jawa terdiri tiga pathet (act)1, yang terdiri dari adegan:

1. Patih dan Punggawa rapat dengan Raja

2. Raja ke keputren, lalu disusul lawakan oleh Limbuk & Cangik

3. Patih dan Punggawa rapat bersama, kemudian seluruh rombongan dari kerajaan berangkat ke suatu tempat

4. Di tengah jalan rombongan kerajaan bertemu dengan musuh, mereka berkelahi, kemudian salah satu kalah

5. Adegan lawakan Gareng, Petruk, dan Bagong. Kemudian mereka menemani sang Satria ke hutan.

6. Di tengah hutan sang Satria bertemu raksasa Cakil dan Bragalba. Terjadi perkelahian sengit walaupun akhirnya sang satria menang (seprise!!).

7. Semua tokoh muncul dan klimaks mulai terjadi

8. Tokoh antagonis perang dengan tokoh protagonis, dan akhirnya kalah dan mati. Terjadi resolusi.

9. Selesai!

Sebuah masalah muncul disini: pertunjukan wayang kulit dibuat baku sedemikian rupa, sehingga dalang nyaris tidak bisa berkreasi lebih dari itu. Paling mentok, dalang akan mengeksplorasi adegan perang dan adegan lawak, karena kedua adegan itu masih fleksibel.

Ketika sesuatu diulang-ulang terus menerus, akhirnya audience akan jenuh. Dan ketika mereka jenuh, otomatis mereka akan pindah ke hiburan lain.

Mungkin kalau diterapkan di jaman sunan-sunan, pakem wayang kulit tidak terlalu menjadi masalah karena frekuensi pagelaran wayang kulit masih jarang. Tapi ketika diterapkan di masa kini ketika sehari dapat diputar dua episode sekaligus, orang akan cepat bosan kalau plot cerita selalu mirip-mirip.

Ironisnya, kebanyakan para pemerhati wayang kulit (termasuk dalang), tidak suka ada inovasi pada pola pertunjukan wayang kulit. Ketika wayang kulit dipendekkan dari 9 jam menjadi 4 jam oleh Indosiar, mereka protes. Ketika urutan adegan di utak-atik mereka protes juga. Ketika Ki Sukasman membuat Wayang Ukur, mereka mencaci-maki.

Wayang kulit sebagai sebuah telur dari kebudayaan tidak seharusnya dikekang dan dibakukan. Seperti kebudayaan sendiri, seharusnya bisa berkembang dan menyesuaikan zaman.

Catatan kaki:
Selain plot yang sama terus, ritme perkembangan cerita wayang kulit mengumpulkan konflik, klimaks, dan resolusi pada 3 jam terakhir, kurang lebih grafiknya seperti ini:

grafik

Otomatis, penonton terpaksa harus menghabiskan 6 jam untuk melihat set-up dari lakon (cerita).

Iklan

Salah seorang penggagas Kunstvereeniging (Perkumpulan Seni) Sobokartti adalah KGPAA Mangkunagara VII. Tentang apa dan siapa Mangkunagara VII ini ada baiknya kita simak tulisan RM Soewardi Soerjaningrat (Ki Hajar Dewantara) yang dimuat di “Hindia Poetera” Tahun I: 1916-1917. Aslinya tulisan ini dalam bahasa Belanda, berjudul “Een Moderne Javaansche Vorst.”

Seorang Raja Jawa Modern

Alangkah besar kegembiraan kami pada waktu kami mendengar kabar, bahwa Soerjo Soeparto yang di negeri ini tak asing lagi telah dinobatkan sebagai raja. Banyak lagi orang yang menerima kabar ini dengan senang hati pula. Kita telah mengenalnya, mengenalnya secara baik dalam hubungan sehari-hari sebagai kawan. Seorang tokoh yang sangat simpatik di antara orang-orang Hindia yang belajar di sini. Seorang yang lahiriah selalu riang gembira, sedangkan batiniah ia adalah seorang yang selalu bersungguh-sungguh dan teratur dalam berpikir. Oleh karena itu di mana-mana kedatangannya selalu disambut dengan baik.[1]

Ia tak pernah membuat kesalahan seperti yang biasa dilakukan kebanyakan orang popular, karena perangainya tidaklah seperti orang-orang yang suka ikut-ikutan. Ia dapat menggembirakan orang-orang muda dengan ceramah-ceramahnya yang menarik mengenai segala sesuatu; banyaklah pengalaman-pengalamannya! Sedang dengan orang-orang tua ia dapat mengikat perhatian mereka semalam suntuk, sebab di samping pengetahuan yang luas mengenai beberapa soal, ia mengerti benar seni konversasi yang logis lebih dari orang lain. Oleh karena itu saja kita sudah merasa senang bila ia pada suatu malam winter yang dingin tiba di rumah kita dengan sekonyong-konyong (dengan selalu bersenandungkan lagu-lagu Jawa, dan dengan begitu ia mendapat julukan laba-laba yang sedang menyanyi). Di atas segala hal itu kami anggap dia simpatik oleh karena gagasan-gagasannya yang demokratis. Dan sekalipun kami, sesudah kerapkali berdiskusi mengenai soal-soal penting tak dapat menemukan persamaan paham, namun bagi kami ia tetap seorang anak raja yang mempunyai dasar demokratis dan yang banyak memikirkan kepentingan rakyat. Bukan itu saja: ia adalah orang yang suka berbuat banyak untuk rakyat, bila ia diberi kesempatan untuk itu.

mn-vii

Kita berharap dengan sungguh-sungguh, mudah-mudahan Raja Mangkunegoro VII yang sekarang ini adalah tetap Soerjo Soeparto yang dahulu itu, sekalipun kini ia mengenakan pakaian yang gemerlapan. Dapatkah dari perbuatan-perbuatannya di masa yang silam kita harapkan hal sedemikian itu? Dapat, sebab yang kini naik di atasa tahta salah satu dari empat kerajaan Jawa itu adalah seorang yang berpendirian kuat dan yang melalui beberapa percobaan dalam kehidupan telah mencapai kepribadiannya. Ia adalah memang seorang anak raja, tetapi yang telah meninggalkan kehidupan dalam lingkungan istana yang tanpa keteguhan hati dan penuh kemewahan itu. Ia lepaskan kehidupan yang tidak segar itu untuk menukarnya dengan lapangan pekerjaan yang lebih menyenangkan. Ia bekerja sebagai magang, yaitu pembantu jurutulis. Kemudian menjadi mantri kabupaten, dan oleh karena ia dalam pada itu selalu berusaha untuk menambah pengetahuannya dalam berbagai bidang dengan mengikuti kursus-kursus yang dibiayainya sendiri dengan uang tabungannya, maka pada akhirnya ia dipandang cukup cakap untuk menduduki jabatan penterjemah di Surakarta. Perlu diketahui, bahwa untuk jabatan itu diperlukan pengetahuan yang mendalam tentang bahasa Belanda dan Jawa. Di situ lah RMA Soerjo Soeparto mulai menyumbangkan tenaganya secara aktif dalam pergerakan Jong Java. Ia mengambil peran penting di dalamnya. Juga ketika ia dengan biaya sendiri pergi ke negeri Belanda untuk memperdalam pengetahuannya tentang bahasa-bahasa Hindia. Sebagai pendengar pada Universitas Leiden ia tetap menunjukkan perhatiannya yang besar terhadap kejadian-kejadian di tanah air. Bahwa ia mendapat penghargaan yang besar dari bangsanya, dapat ditunjukkan dengan pengangkatannya sebagai ketua dari perkumpulan Boedi Oetomo, tidak lama setelah ia kembali ke tanah air.

Hanya orang-orang yang kuat batinnya dapat menerima beban yang istimewa dari Tuhan. Mudah-mudahan Mangkoenegoro VII dianugerahi batin yang kuat itu!

[1] Juga kawan-kawannya dari Haagsche Grenadiers (tentara pengawal ratu) masih selalu memuji pangeran Jawa ini – yang kemudian menjadi letnan cadangan – tentang pergaulannya dengan anak buahnya, maupun tentang pelaksanaan tugas dinasnya. Dengan kawan-kawannya dari Haagsche Grenadiers itulah pangeran ini mengalami kehidupan ketentaraannya yang berat.


“Hindia-Poetera”, 1e jaargang, 1916-1917

Suara Merdeka 24 Mei 2006

Menghadirkan Karsten di Sobokarti

APA hubungan Herman Thomas Karsten dengan Hari Kebangkitan Nasional? Bukankah sebagai arsitek, ia berkewarganegaraan Belanda? Tunggu dahulu. Meski bukan bumiputra, lelaki kelahiran Amsterdam 1884 itu punya jiwa Indonesia. Bersama Soekarno, Karsten tercatat turut mendirikan dan aktif dalam Java Institute, organisasi yang berikhtiar mewujudkan Nusantara sebagai sebuah bangsa.

Berdasarkan fakta itulah, Yayasan Losari, Minggu (21/5) malam lalu, menggelar peringatan Hari Kebangkitan Nasional dengan mengenang karya Thomas Karsten. Perhelatan dilaksanakan di Gedung Kesenian Sobokarti, Jalan Dr Cipto Semarang, salah satu bangunan hasil rancangan arsitek kenamaan tersebut.

Malam itu, Sobokarti bak kembali ke suasana tempo dahulu. Di pelataran, aneka makanan tradisional mi jawa, tahu gimbal, martabak, dan wedang tahu disajikan secara prasmanan. Tamu undangan menikmati sajian itu dalam remang cahaya senthir.

Sementara gamelan ditabuh bertalu-talu mengiringi gerakan tari Gambyong Pareanom dan Perang Kembang, yang masing-masing ditarikan awak kesenian Unika Soegijapranata dan kelompok wayang orang Ngesti Pandawa.

Tak ayal, aneka sajian itu membawa para tamu undangan, di antaranya Wakil Wali Kota Mahfudz Ali, mantan Wali Kota Soetrisno Suharto, Romo Sudiyatmana, dan para pecinta arsitektur serasa bernostalgia. Malam itu, Karsten bagai dihadirkan kembali di Sobokarti.

Sebagai puncak acara, diadakan paparan singkat tentang Karsten dan karya-karyanya. Tampil sebagai pembicara, dosen Jurusan Arsitektur Unika Soegijapranata Ir Tjahyono Rahardjo MA dan Ketua Ikatan Arsitek Indonesia Cabang Jawa Tengah Ir Widya Wijayanti MURP-IAI.

Kearifan

Dalam kesempatan itu, Tjahyono mengurai sosok Karsten sebagai arsitek yang memiliki jiwa nasionalisme dan sosialisme tinggi. Dalam mendesain karya-karyanya, dia meletakkan kepentingan umum di atas kepentingan pribadi.

Lelaki yang menyunting perempuan Jawa sebagai istrinya itu berpandangan, arsitektur hendaknya tunduk pada kepentingan masyarakat kebanyakan. Karsten, ujar Tjahyono, juga getol mengawinkan gaya arsitektur lokal dengan Barat.

Dalam hal ini, Gedung Kesenian Sobokarti menjadi bukti. “Sobokarti memadukan bangunan joglo dengan konsep teater Barat. Karsten menambahkan tribun atau balkon untuk tempat duduk penonton.”

Sementara Widya Wijayanti memapar seputar Karsten dan kearifan karya-karyanya. Arsitek yang datang di tanah Hindia pada akhir 1914 atas undangan seniornya Henri Maclaine Pont itu, punya prinsip rancangan selaras alam.

Awal 1940-an, Karsten aktif menyumbangkan kemampuannya untuk para ahli teknik bumiputra. Dia mengajar pada Technische Hoogeschool Bandung (sekarang ITB), dan sempat menjadi guru besar.

Meski demikian, akhir hidup Karsten tak seindah karya-karyanya. Dia meninggal dalam peristiwa Cimahi dengan kondisi yang mengenaskan. Dia memang telah lama tiada, namun karya-karyanya tetap lestari, menjadi monumen hidup yang tak lekang oleh zaman. (Rukardi-18d)

Penggantian penutup atap brunjung telah selesai dikerjakan dalam waktu satu minggu. Selain penutup atap, juga dilakukan penggantian talang. Setelah kebocoran atap bisa diatasi, tahap perbaikan fisik selanjutnya adalah meremajakan kabel-kabel listrik dan mengatasai banjir.
Penggantian sirap dengan genteng ini sempat mendapatkan kritikan dari beberapa pihak. Namun kami mendapat dukungan dari seorang ahli konservasi bangunan, Ir A. Kriswandhono, Msi, yang menyatakan pergantian itu tidak menyalahi kaidah konservasi bangunan. Pertimbangannya adalah penggantian sirap dengan genteng adalah untuk menyelamatkan bangunan secara keseluruhan. Sementara apabila kelak penutup atap akan dikembalikan menjadi sirap hal itu mudah dilakukan.

Oleh: Suyitno

 

 

Promosi kebudayaan bukanlah monopoli departemen kebudayaan dan pariwisata. Sehari yang lalu tepatnya, 1 Juli 2007, di aula pertunjukan universitas musik Graz (KUG), Austria telah dipentaskan gamelan jawa. Ya, gamelan jawa yang sudah mulai dilupakan kaum muda di Jawa Tengah kini seolah mempunyai roh magis di negera orang lain.

Awal Perjalanan.
Pementasan gamelan jawa kali ini terasa lain. Selama pementasan, nuansa gamelan jawa benar-benar bisa dirasakan. Para pemain juga terlihat lebih santai. Pementasan didukung penuh oleh grup gamelan Graz (G3). G3 diawali kira-kira tiga tahun yang lalu. Awalnya, G3 merupakan semacam kegiatan ektrakulikuler yang ada di KUG. Adanya institut untuk musik etnik (Institute für Musikethnologie) merupakan induk dari kegiatan G3. Di KUG terdapat 17 institut yang mirip dengan jurusan kalau di Indonesia.

Dengan dikomandani oleh Prof. Gerd Grupe dan Rainer Schütz, MA., kegiatan ekstrakurikuler G3 diselenggarakan rutin seminggu sekali setiap kamis petang. Anggota rutin berkisar 10-15 orang dari berbagai kewarganegaraan yang berbeda, ada Jerman, Perancis, Austria, dan Indonesia. Anggota gamelan juga mempunyai beragam profesi yang berbeda, ada staf dari KUG, ada mahasiswa (sebagian besar), ada pekerja, dan ada guru musik. Persinggungan alami anggota yang berbudaya Austria-Jerman dengan mahasiswa Indonesia yang berbudaya Indonesia juga merupakan satu interaksi menarik yang terkadang mampu membuat suasana menjadi cair dan gayeng. Selama latihan, komunikasi dilakukan dengan menggunakan campuran dari bahasa Jerman, Inggris, dan Indonesia. Dari sini terlihat bahwa kegiatan G3 sendiri sangatlah unik.

Ketekunan, kerutinan, dan keseriusan dalam latihan gamelan dari orang luar negeri patut diacungi jempol. Mereka sepertinya tidak mengenal pemeo oblor blarak yang hanya semangat di awal. Mereka konsisten bahkan beberapa kali latihan tambahan harus dilaksanan pada hari sabtu dan minggu dimana kedua hari itu adalah hari untuk berlibur mereka. Apakah terganggu, ya mesti saja terganggu, tetapi mereka tetap melakukannya dengan senang. Semua sesuai kesepatakan bersama, sebagai ciri khas dari grup gamelan yang berciri egaliter.

Dari sisi peralatan, kegiatan G3 didukung dengan seperangkat gamelan yang lengkap, slendro dan pelog. Gamelan dipesan dan dibuat langsung dari Solo. Satu kelemahan mendasar dari gamelan adalah ketidakpraktisannya. Gamelan terasa sangat tidak praktis karena perlu ruangan yang cukup besar. Selain itu, gamelan juga mempunyai berat yang jauh berlebih dibandingkan jenis instrumen Eropa lain. Menariknya, kebesarannya gong Ageng, misalnya justru mempunyai daya tarik tersendiri bagi penonton.

Selama Pementasan.
Pementasan tahun ini terasa lain dari pementasan sebelumnya tahun lalu dilihat dari beberapa hal. Pertama, ruangan. Ruangan yang cukup besar sangat mendukung kenyamanan penonton. Jejeran kursi yang rapi dan penyinaran lampu yang cukup bisa membuat penonton nyaman untuk duduk berlama-lama.

Kedua, iklan. Apresiasi patut diberikan pada partisipasi koran lokal yang turut mengiklankan pertunjukkan gamelan yang tidak bertiket masuk ini alias gratis. Jumlah penonton yang mampu disedot sampai 200-an orang. Jumlah yang cukup banyak mengingat keseluruhan penduduk di Graz hanyalah 287.723. Penonton juga bervariasi dari golongan sepuh sampai anak-anak. Beberapa profesor dari bidang non musik bahkan terlihat dibarisan depan, turut menikmati pertunjukan selama 1,5 jam tersebut.

Ketiga, faktor pemain gamelan. Komposisi pemain gamelan terdiri dari KUG 7 orang, 1 orang didatangkan dari London-Inggris, 4 mahasiswa indonesia di Graz, 1 pesinden yang didatangkan dari ISI Solo, dan 2 penduduk Austria. Pemain memakai seragam batik. Batik sendiri mampu membuat sebagian penonton terkesima. Beberapa pertanyaan mereka ajukan seputaran batik. Ada yang terpesona pada batik karena kesimetrisan kiri-kanan dimana hal tersebut jarang ada pada model pakaian mereka.

Jumlah lagu yang dipertunjukkan ada 8. Terdiri dari ladrang wilujeng, ketawang subakastawa, ketawang branta mentul, ketawang kinanthi sandhung, ketawang sinom logondhang, dandang semarangan, ladrang pangkur dan ladrang gambyong pare anom. Susunan acara sendiri dikemas seperti pertunjukan musik klasik gaya Eropa digedung opera dimana ada jeda untuk instirahat sekali diantara dhandhang semarangan dan ladrang pangkur. Penonton pun selain dapat beristirahat dan bercengkrama juga diberi kesempatan untuk menjajal gamelan.

Ketidaktahuan penonton akan jenis lagu yang akan dipertontonkan dijembatani dengan adanya uraian sebelum setiap lagu mulai dibawakan. Antusiasme penonton terlihat dari gemuruhnya tepuk tangan setelah setiap lagu selesai. Dengan pesinden Sukesi yang mempunyai suara khas mampu menyihir penonton untuk tidak beranjak dari tempat duduk sampai pertunjukan selesai. Suaranya yang apik khusus dipersembahkan buat penonton pada saat membawakan lagu dhandhang semarangan. Dandanan khas pesindennya pun juga cantik dan mampu membuat decak kagum penonton karena keklasikannya. Pada saat tarian gambyong, penonton disuguhi tarian yang luwes. Di akhir pertunjukan, penonton lagi-lagi dibuat terkesima akan tarian yang dibawakan Sukesi dengan apiknya. Mereka umumnya membandingkannya dengan dansa. Akhirnya, tepuk tangan yang sangat-sangat meriah dan berulang-ulang sampai beberapa menit dari penonton merupakan bentuk apresiasi yang sangat tinggi akan kebudayaan yang satu ini. Semua puas.

Acara tidak berakhir sampai disini. Unik memang. Tidak seperti pertunjukan pada umumnya, acara dilanjutkan dengan diskusi. Pertanyaan penonton dijawab secara langsung oleh Rainer Schütz, MA. Ada sekitar 20-an pertanyaan yang kesemuanya menunjukkan rasa keingintahuan mendalam akan budaya Indonesia yang menurut mereka sangat harmonis. Beberapa pertanyaan yang menarik dari penonton misalnya, apa guna dari gamelan pada saat ini, bagaimana prinsip musik gamelan dimainkan, siapa pemain-pemain gamelan di Graz, bagaimana gamelan dibuat dan berapa lama, bagaimana hubungan gamelan dan tari dengan penduduk Indonesia yang mayoritas muslim, dan sebagainya.

Hikmah.
Terdapat beberapa pelajaran menarik yang dapat ditarik dari hasil pementasan grup gamelan Graz tanggal 1 Juli 2007. Pertama, tentang masa depan kebudayaan gamelan dan kebudayaan Indonesia pada umumnya. Sementara di negeri sendiri kebudayaan ini seolah terpinggirkan, justru di negara orang begitu diapresiasi dengan sangat tinggi. Kedua, strategi kebudayaan dari pihak institusi pendidikan seni di Indonesia yang semestinya bisa ditingkatkan lagi karena kesempatan kerjasama lintas negara tersebut sangat terbuka. Ketiga, menyangkut strategi promosi pariwisata Indonesia di luar negeri. Tidak semua orang luar negeri membutuhkan liburan dan hiburan dengan gaya nudisme. Banyak juga orang luar negeri yang tertarik akan keramahan, keunikan, keklasikan, dan kejelasan informasi dari suatu budaya. Selain itu promosi kebudayaan informal semacam pertunjukan gamelan di Graz ini terasa lebih mengena dan efektif. Selamat pada grup gamelan Graz dan semoga kegiatanmu menggugah kesadaran bangsaku untuk menggali kembali budayanya sendiri. Semoga.

 

 

 

(http://msuyitno.blogspot.com/2007/07/apresiasi-gamelan-jawa-di-austria.html)

 

 

Panjang punjung pasir wukir loh jinawi. Gemah ripah karta tata raharja. Tan wonten para kawula kang nindakaken lampah durjana…. Demikian antara lain janturan yang biasanya diucapkan dalang pada adegan pertama pergelaran wayang kulit purwa. Sementara itu dalam adegan tapa brata atau samadi seseorang tokoh, biasanya dalang mengucapkan naturan sebagai berikut: Nalika semana wus sidhakep saluku tunggal, nutupi babahan hawa sanga mandeng puncaking grana, mawas mahya menjinging buswa. Pancasila kesthi, sekawan kang binungkas, sajuga kang sinidhikara, kinarya nut laksining brata. Pranyata Hwu-ning sembada pralebeting patrap pangulah lenging subrata. Mangkya sang parameng kayun, kang kayungyun angayomi ayahaning. Paramatman, yayah wus umanjing turyan, sawang lena jroning urip, sang atma lir lagnyana, dan seterusnya.

JANTURAN dalam adegan pergelaran wayang kulit purwa, seperti di atas, ternyata hanya salah satu contoh adanya kandungan nilai adiluhung dan makna filosofis dalam pergelaran wayang kulit. Contoh lainnya adalah adanya Dhodhogan yang dilakukan para dalang ketika akan memulai pergelaran wayang (memulai adegan pertama atau Jejer Sepisan). Konon, Gagrak Jawa Timur dan Surakarta umumnya menggunakan dhodhog pitu (dhodhogan sebanyak tujuh kali), sedangkan Gagrag Yogyakarta menggunakan Dhodhog Lima. Hal itu seperti diajarkan di Sekolah Pedhalangan Kraton Yogyakarta, Hanganakake Biwara Rancangan Dhalang (Habirandha).

Dalam perkembangannya, para dalang mengembangkan Dhodhogan sendiri-sendiri, sesuai pemahaman masing-masing dalang terhadap makna pengadegan (jejer), khususnya Jejer Sepisan. Ki Hadi Sugito (almarhum, misalnya, biasanya menggunakan Dhodhog Sanga. Menurut Ki Edi Suwondo, dalang yang tinggal di Pajangan Sleman, lima dhodhogan yang dipakai Habirandha merupakan simbol sembah raga, sembah cipta, sembah rasa, sembah budi, dan sembah karsa.

Sedangkan Dhodhog Sanga yang dipakai Ki Hadi Sugito mungkin ada hubungannya dengan Babahan Hawa Sanga. ”Yang jelas, makna filosofis yang ada dalam pergelaran wayang gagrak Yogya biasanya diartikan sebagai hubungan fertikal antara manusia dengan Tuhan. Bisa juga diartikan hubungan seseorang dengan leluhurnya,” kata Ki Edi Suwondo.

Sementara itu Dhodhogan yang semula dipakai para dalang dengan gagrak Jawa Timur dan Surakarta, ada yang menghubungkannya dengan karya agung Raden Ngabehi Ranggawarsita, tentang pembagian zaman di Indonesia. Yakni Jaman Kali Swara (lamanya 700 tahun, ditandai dengan zaman yang penuh gara-gara dan kejadian-kejadian aneh, serta banyak orang yang berambisi menjadi dewa/penguasa. Jaman Kaliyaga (lamanya 700 tahun, ditandai dengan zaman yang banyak malapetaka, akeh bumi bengkah gunung njebluk. Jaman Kali Sengara (ditandai dengan zaman yang banyak terjadi udan salah mangsa, kali pindhah panggonan, banyak orang yang kesulitan mendapatkan kebahagiaan karena setiap orang ingin menang dan benar sendiri. Zaman ini juga disebut zaman akhir). Ir Sri Mulyono dalam bukunya Wayang, Asal-usul, Filsafat dan Masa Depannya (1975) juga menyebutkan bahwa karya-karya pujangga Ranggawarsita memang menempatkan Jatining Panembah.

Ki Cermo Sutejo sebagai salah satu dwija (guru) di Habirandha mengatakan, seni pedalangan dari generasi ke generasi senantiasa mengalami perubahan, seiring dengan berputarnya roda zaman. Manut jaman kelakone dan mempunyai kekhasan tersendiri. Karena itu sangat mungkin penerap-an pakem perkeliran selalu berkembang sesuai perkembangan zaman.
Disebutkan, pakem pedalangan gagrak Yogya juga mengatur urutan pengunaan pathet gendhing dalam pergelaran wayang kulit. Pathet gendhing dimaksud terdiri Pathet Nem (sekitar pukul 21.00-24.00), Pathet Sanga (24.00-03.00), dan Pathet Manyura (pukul 03.00 sampai selesai). Pergelaran wayang diakhiri dengan Pathet Galong.

Putaran pathet gendhing tersebut juga punya makna filosofis sifat manusia berdasar tingkatan usianya. Gendhing Pathet Nem membangun suasana gembira, menggambarkan sifat manusia pada usia anak-anak sampai menjelang dewasa. Gendhing Pathet Sanga membangun suasana tenang dan mentes, menggambarkan sifat manusia dewasa yang sudah menep, dan Pathet Manyura membangun suasana sumarah dan menggambarkan sifat manusia pada usia yang mendekati kembali kepada sangkan paraning dumadi. Sedangkan Pathet Galong merupakan simbol seseorang yang sudah sampai pada galenganing urip atau akhir kehidupan.

Sementara itu menurut Mas Wedana Cermagupita (Ki Basirun), pakem juga berkaitan dengan laras ontowecana ketika dalang menirukan suara masing-masing tokoh wayang, sesuai waktu atau pathet-nya, penggunaan tokoh wayang sesuai dengan pathet, sesebutan yang benar berdasarkan silsilah wayang. Contoh laras ketika jejer kapisan Ngastina, suara Prabu Duryudana harus laras nem gedhe dan rasa kendho. Sedangkan Patih Sengkuni harus laras jangga loro, rasane sajak ngglenyeng.

Penggunaan tokoh wayang yang pakem misalnya, dalam jejer 1 Dwarawati, maka tokoh Kresna yang digunakan adalah wanda rondhon (tidak yang berkulit hitam). Dalam sesebutan, misalnya, Raden Gatotkaca kepada Puntadewa menyebut uwa, karena berdasar silsilah, ia kakak Raden Werkudara. Kepada Nakula atau Sadewa, Gatotkaca menyebut Paman.

Menurut Ki Sumono Wijiatmojo, dalang yang tinggal di Kalibawang Kulonprogo, nilai-nilai luhur sebenarnya tidak hanya terdapat pada adegan pertama. Sebab dalam pergelaran wayang kulit gagrak Yogya, adegan pertama sampai adegan terakhir selalu ada misi atau pesan moralnya. ”Karena itu tidak benar kalau ada anggapan bahwa dalang Yogya tidak pernah berkembang. Sebab, para dalang dituntut selalu mampu mengaktualisasikan misi dalam setiap adegan pada pergelaran wayang,” tegasnya.

Sekretaris Daerah (Sekda) Pemerintah Kabupaten Kulonprogo, Drs H Soim MM, juga menilai bahwa seni pedalangan atau pergelaran wayang kulit merupakan salah satu seni tradisional adiluhung yang harus dipertahankan, dilestarikan dan dikembangkan. Sebab, pergelaran wayang bukan sekadar tontonan tetapi juga merupakan media tuntunan. Bahkan adegan pertama dalam pergelaran wayang sebenarnya merupakan ‘tuntunan wajib’ bagi para politisi.

”Saya menilai, adegan pertama pergelaran wayang kulit merupakan intisari tuntunan pergelaran wayang secara keseluruhan. Sebab dalam adegan pertama tersebut, dari janturan sampai dialog jejeran sarat nilai-nilai ajaran yang sangat penting, khususnya bagi para politisi. Karena itu para politisi seharusnya ‘diwajibkan’ menyaksikan dan menghayati isi adegan pertama pergelaran wayang kulit,” kata Drs H Soim MM. Untuk itu, diharapkan para dalang mampu mengemas adegan pertama pergelaran wayang kulit agar mampu menarik perhatian penonton. Nilai-nilai ajaran yang terdapat dalam adegan pertama juga harus dikemas sedemikian rupa, sehingga dapat dipahami dengan jelas oleh penonton.      (Joko Budhiarto)-m

 

2255423412_72551a33d5

Ketertarikan dunia barat pada musik kepulauan Indonesia adalah fenomena yang relatif baru. Orang Eropa pertama yang memberikan reaksi pada musik Jawa nampaknya adalah Sir Francis Drake. Salah satu entri yang terkenal dalam buku log kapal HMS Golden Hind (1580) adalah tentang pertukaran musikal di pantai selatan Jawa antara penguasa setempat dan tamu-tamunya dari Inggris: ’Raja Donan naik ke kapal – menyajikan musik negaranya pada jenderal kami, yang meski sangat aneh, tapi terdengar indah dan menyenangkan.’ Setelah uraian sekilas itu, yang belum tentu tentang musik gamelan, baru 200 tahun kemudian Sir Thomas Stamford Raffles memberikan perhatian yang lebih aktif pada kebudayaan Jawa, melakukan penelitian tentang sejarah pulau itu dan membawa instrumen-instrumnen gamelan dan boneka wayang ke Inggris. Rupanya instrumen-instrumen itu adalah satu-satunya yang ada di Inggris, sampai 1971 ketika kedutaan Indonesia di London mendatangkan seperangkat gamelan dari Solo yang diberi nama Kyai Rawatmeja. Peristiwa ini menandai awal yang sebenarnya studi praktis musik gamelan di Inggris.

Sumber: Sorell (1990) A Guide to the Gamelan.

gamelan-anak-anak