Oleh: Suyitno

 

 

Promosi kebudayaan bukanlah monopoli departemen kebudayaan dan pariwisata. Sehari yang lalu tepatnya, 1 Juli 2007, di aula pertunjukan universitas musik Graz (KUG), Austria telah dipentaskan gamelan jawa. Ya, gamelan jawa yang sudah mulai dilupakan kaum muda di Jawa Tengah kini seolah mempunyai roh magis di negera orang lain.

Awal Perjalanan.
Pementasan gamelan jawa kali ini terasa lain. Selama pementasan, nuansa gamelan jawa benar-benar bisa dirasakan. Para pemain juga terlihat lebih santai. Pementasan didukung penuh oleh grup gamelan Graz (G3). G3 diawali kira-kira tiga tahun yang lalu. Awalnya, G3 merupakan semacam kegiatan ektrakulikuler yang ada di KUG. Adanya institut untuk musik etnik (Institute für Musikethnologie) merupakan induk dari kegiatan G3. Di KUG terdapat 17 institut yang mirip dengan jurusan kalau di Indonesia.

Dengan dikomandani oleh Prof. Gerd Grupe dan Rainer Schütz, MA., kegiatan ekstrakurikuler G3 diselenggarakan rutin seminggu sekali setiap kamis petang. Anggota rutin berkisar 10-15 orang dari berbagai kewarganegaraan yang berbeda, ada Jerman, Perancis, Austria, dan Indonesia. Anggota gamelan juga mempunyai beragam profesi yang berbeda, ada staf dari KUG, ada mahasiswa (sebagian besar), ada pekerja, dan ada guru musik. Persinggungan alami anggota yang berbudaya Austria-Jerman dengan mahasiswa Indonesia yang berbudaya Indonesia juga merupakan satu interaksi menarik yang terkadang mampu membuat suasana menjadi cair dan gayeng. Selama latihan, komunikasi dilakukan dengan menggunakan campuran dari bahasa Jerman, Inggris, dan Indonesia. Dari sini terlihat bahwa kegiatan G3 sendiri sangatlah unik.

Ketekunan, kerutinan, dan keseriusan dalam latihan gamelan dari orang luar negeri patut diacungi jempol. Mereka sepertinya tidak mengenal pemeo oblor blarak yang hanya semangat di awal. Mereka konsisten bahkan beberapa kali latihan tambahan harus dilaksanan pada hari sabtu dan minggu dimana kedua hari itu adalah hari untuk berlibur mereka. Apakah terganggu, ya mesti saja terganggu, tetapi mereka tetap melakukannya dengan senang. Semua sesuai kesepatakan bersama, sebagai ciri khas dari grup gamelan yang berciri egaliter.

Dari sisi peralatan, kegiatan G3 didukung dengan seperangkat gamelan yang lengkap, slendro dan pelog. Gamelan dipesan dan dibuat langsung dari Solo. Satu kelemahan mendasar dari gamelan adalah ketidakpraktisannya. Gamelan terasa sangat tidak praktis karena perlu ruangan yang cukup besar. Selain itu, gamelan juga mempunyai berat yang jauh berlebih dibandingkan jenis instrumen Eropa lain. Menariknya, kebesarannya gong Ageng, misalnya justru mempunyai daya tarik tersendiri bagi penonton.

Selama Pementasan.
Pementasan tahun ini terasa lain dari pementasan sebelumnya tahun lalu dilihat dari beberapa hal. Pertama, ruangan. Ruangan yang cukup besar sangat mendukung kenyamanan penonton. Jejeran kursi yang rapi dan penyinaran lampu yang cukup bisa membuat penonton nyaman untuk duduk berlama-lama.

Kedua, iklan. Apresiasi patut diberikan pada partisipasi koran lokal yang turut mengiklankan pertunjukkan gamelan yang tidak bertiket masuk ini alias gratis. Jumlah penonton yang mampu disedot sampai 200-an orang. Jumlah yang cukup banyak mengingat keseluruhan penduduk di Graz hanyalah 287.723. Penonton juga bervariasi dari golongan sepuh sampai anak-anak. Beberapa profesor dari bidang non musik bahkan terlihat dibarisan depan, turut menikmati pertunjukan selama 1,5 jam tersebut.

Ketiga, faktor pemain gamelan. Komposisi pemain gamelan terdiri dari KUG 7 orang, 1 orang didatangkan dari London-Inggris, 4 mahasiswa indonesia di Graz, 1 pesinden yang didatangkan dari ISI Solo, dan 2 penduduk Austria. Pemain memakai seragam batik. Batik sendiri mampu membuat sebagian penonton terkesima. Beberapa pertanyaan mereka ajukan seputaran batik. Ada yang terpesona pada batik karena kesimetrisan kiri-kanan dimana hal tersebut jarang ada pada model pakaian mereka.

Jumlah lagu yang dipertunjukkan ada 8. Terdiri dari ladrang wilujeng, ketawang subakastawa, ketawang branta mentul, ketawang kinanthi sandhung, ketawang sinom logondhang, dandang semarangan, ladrang pangkur dan ladrang gambyong pare anom. Susunan acara sendiri dikemas seperti pertunjukan musik klasik gaya Eropa digedung opera dimana ada jeda untuk instirahat sekali diantara dhandhang semarangan dan ladrang pangkur. Penonton pun selain dapat beristirahat dan bercengkrama juga diberi kesempatan untuk menjajal gamelan.

Ketidaktahuan penonton akan jenis lagu yang akan dipertontonkan dijembatani dengan adanya uraian sebelum setiap lagu mulai dibawakan. Antusiasme penonton terlihat dari gemuruhnya tepuk tangan setelah setiap lagu selesai. Dengan pesinden Sukesi yang mempunyai suara khas mampu menyihir penonton untuk tidak beranjak dari tempat duduk sampai pertunjukan selesai. Suaranya yang apik khusus dipersembahkan buat penonton pada saat membawakan lagu dhandhang semarangan. Dandanan khas pesindennya pun juga cantik dan mampu membuat decak kagum penonton karena keklasikannya. Pada saat tarian gambyong, penonton disuguhi tarian yang luwes. Di akhir pertunjukan, penonton lagi-lagi dibuat terkesima akan tarian yang dibawakan Sukesi dengan apiknya. Mereka umumnya membandingkannya dengan dansa. Akhirnya, tepuk tangan yang sangat-sangat meriah dan berulang-ulang sampai beberapa menit dari penonton merupakan bentuk apresiasi yang sangat tinggi akan kebudayaan yang satu ini. Semua puas.

Acara tidak berakhir sampai disini. Unik memang. Tidak seperti pertunjukan pada umumnya, acara dilanjutkan dengan diskusi. Pertanyaan penonton dijawab secara langsung oleh Rainer Schütz, MA. Ada sekitar 20-an pertanyaan yang kesemuanya menunjukkan rasa keingintahuan mendalam akan budaya Indonesia yang menurut mereka sangat harmonis. Beberapa pertanyaan yang menarik dari penonton misalnya, apa guna dari gamelan pada saat ini, bagaimana prinsip musik gamelan dimainkan, siapa pemain-pemain gamelan di Graz, bagaimana gamelan dibuat dan berapa lama, bagaimana hubungan gamelan dan tari dengan penduduk Indonesia yang mayoritas muslim, dan sebagainya.

Hikmah.
Terdapat beberapa pelajaran menarik yang dapat ditarik dari hasil pementasan grup gamelan Graz tanggal 1 Juli 2007. Pertama, tentang masa depan kebudayaan gamelan dan kebudayaan Indonesia pada umumnya. Sementara di negeri sendiri kebudayaan ini seolah terpinggirkan, justru di negara orang begitu diapresiasi dengan sangat tinggi. Kedua, strategi kebudayaan dari pihak institusi pendidikan seni di Indonesia yang semestinya bisa ditingkatkan lagi karena kesempatan kerjasama lintas negara tersebut sangat terbuka. Ketiga, menyangkut strategi promosi pariwisata Indonesia di luar negeri. Tidak semua orang luar negeri membutuhkan liburan dan hiburan dengan gaya nudisme. Banyak juga orang luar negeri yang tertarik akan keramahan, keunikan, keklasikan, dan kejelasan informasi dari suatu budaya. Selain itu promosi kebudayaan informal semacam pertunjukan gamelan di Graz ini terasa lebih mengena dan efektif. Selamat pada grup gamelan Graz dan semoga kegiatanmu menggugah kesadaran bangsaku untuk menggali kembali budayanya sendiri. Semoga.

 

 

 

(http://msuyitno.blogspot.com/2007/07/apresiasi-gamelan-jawa-di-austria.html)