Suara Merdeka 24 Mei 2006

Menghadirkan Karsten di Sobokarti

APA hubungan Herman Thomas Karsten dengan Hari Kebangkitan Nasional? Bukankah sebagai arsitek, ia berkewarganegaraan Belanda? Tunggu dahulu. Meski bukan bumiputra, lelaki kelahiran Amsterdam 1884 itu punya jiwa Indonesia. Bersama Soekarno, Karsten tercatat turut mendirikan dan aktif dalam Java Institute, organisasi yang berikhtiar mewujudkan Nusantara sebagai sebuah bangsa.

Berdasarkan fakta itulah, Yayasan Losari, Minggu (21/5) malam lalu, menggelar peringatan Hari Kebangkitan Nasional dengan mengenang karya Thomas Karsten. Perhelatan dilaksanakan di Gedung Kesenian Sobokarti, Jalan Dr Cipto Semarang, salah satu bangunan hasil rancangan arsitek kenamaan tersebut.

Malam itu, Sobokarti bak kembali ke suasana tempo dahulu. Di pelataran, aneka makanan tradisional mi jawa, tahu gimbal, martabak, dan wedang tahu disajikan secara prasmanan. Tamu undangan menikmati sajian itu dalam remang cahaya senthir.

Sementara gamelan ditabuh bertalu-talu mengiringi gerakan tari Gambyong Pareanom dan Perang Kembang, yang masing-masing ditarikan awak kesenian Unika Soegijapranata dan kelompok wayang orang Ngesti Pandawa.

Tak ayal, aneka sajian itu membawa para tamu undangan, di antaranya Wakil Wali Kota Mahfudz Ali, mantan Wali Kota Soetrisno Suharto, Romo Sudiyatmana, dan para pecinta arsitektur serasa bernostalgia. Malam itu, Karsten bagai dihadirkan kembali di Sobokarti.

Sebagai puncak acara, diadakan paparan singkat tentang Karsten dan karya-karyanya. Tampil sebagai pembicara, dosen Jurusan Arsitektur Unika Soegijapranata Ir Tjahyono Rahardjo MA dan Ketua Ikatan Arsitek Indonesia Cabang Jawa Tengah Ir Widya Wijayanti MURP-IAI.

Kearifan

Dalam kesempatan itu, Tjahyono mengurai sosok Karsten sebagai arsitek yang memiliki jiwa nasionalisme dan sosialisme tinggi. Dalam mendesain karya-karyanya, dia meletakkan kepentingan umum di atas kepentingan pribadi.

Lelaki yang menyunting perempuan Jawa sebagai istrinya itu berpandangan, arsitektur hendaknya tunduk pada kepentingan masyarakat kebanyakan. Karsten, ujar Tjahyono, juga getol mengawinkan gaya arsitektur lokal dengan Barat.

Dalam hal ini, Gedung Kesenian Sobokarti menjadi bukti. “Sobokarti memadukan bangunan joglo dengan konsep teater Barat. Karsten menambahkan tribun atau balkon untuk tempat duduk penonton.”

Sementara Widya Wijayanti memapar seputar Karsten dan kearifan karya-karyanya. Arsitek yang datang di tanah Hindia pada akhir 1914 atas undangan seniornya Henri Maclaine Pont itu, punya prinsip rancangan selaras alam.

Awal 1940-an, Karsten aktif menyumbangkan kemampuannya untuk para ahli teknik bumiputra. Dia mengajar pada Technische Hoogeschool Bandung (sekarang ITB), dan sempat menjadi guru besar.

Meski demikian, akhir hidup Karsten tak seindah karya-karyanya. Dia meninggal dalam peristiwa Cimahi dengan kondisi yang mengenaskan. Dia memang telah lama tiada, namun karya-karyanya tetap lestari, menjadi monumen hidup yang tak lekang oleh zaman. (Rukardi-18d)