untitledDecember 18th, 2005

Kenapa wayang kulit membosankan?

Saksono

Beberapa saat yang lalu, para pemerhati wayang kulit berkumpul dan berkatarsis bersama-sama. Cukup menarik memang karena kebanyakan dari mereka mengeluh tentang eksistensi wayang kulit yang kalah dengan sinetron.

Salah satu hal yang membuat wayang kulit tidak lagi menarik adalah pertunjukan ini sangat membosankan. Bagaimana tidak, semua pertunjukan wayang kulit nyaris sama persis, ada pakemnya. Sebagai gambaran, semua pertunjukan wayang kulit jawa terdiri tiga pathet (act)1, yang terdiri dari adegan:

1. Patih dan Punggawa rapat dengan Raja

2. Raja ke keputren, lalu disusul lawakan oleh Limbuk & Cangik

3. Patih dan Punggawa rapat bersama, kemudian seluruh rombongan dari kerajaan berangkat ke suatu tempat

4. Di tengah jalan rombongan kerajaan bertemu dengan musuh, mereka berkelahi, kemudian salah satu kalah

5. Adegan lawakan Gareng, Petruk, dan Bagong. Kemudian mereka menemani sang Satria ke hutan.

6. Di tengah hutan sang Satria bertemu raksasa Cakil dan Bragalba. Terjadi perkelahian sengit walaupun akhirnya sang satria menang (seprise!!).

7. Semua tokoh muncul dan klimaks mulai terjadi

8. Tokoh antagonis perang dengan tokoh protagonis, dan akhirnya kalah dan mati. Terjadi resolusi.

9. Selesai!

Sebuah masalah muncul disini: pertunjukan wayang kulit dibuat baku sedemikian rupa, sehingga dalang nyaris tidak bisa berkreasi lebih dari itu. Paling mentok, dalang akan mengeksplorasi adegan perang dan adegan lawak, karena kedua adegan itu masih fleksibel.

Ketika sesuatu diulang-ulang terus menerus, akhirnya audience akan jenuh. Dan ketika mereka jenuh, otomatis mereka akan pindah ke hiburan lain.

Mungkin kalau diterapkan di jaman sunan-sunan, pakem wayang kulit tidak terlalu menjadi masalah karena frekuensi pagelaran wayang kulit masih jarang. Tapi ketika diterapkan di masa kini ketika sehari dapat diputar dua episode sekaligus, orang akan cepat bosan kalau plot cerita selalu mirip-mirip.

Ironisnya, kebanyakan para pemerhati wayang kulit (termasuk dalang), tidak suka ada inovasi pada pola pertunjukan wayang kulit. Ketika wayang kulit dipendekkan dari 9 jam menjadi 4 jam oleh Indosiar, mereka protes. Ketika urutan adegan di utak-atik mereka protes juga. Ketika Ki Sukasman membuat Wayang Ukur, mereka mencaci-maki.

Wayang kulit sebagai sebuah telur dari kebudayaan tidak seharusnya dikekang dan dibakukan. Seperti kebudayaan sendiri, seharusnya bisa berkembang dan menyesuaikan zaman.

Catatan kaki:
Selain plot yang sama terus, ritme perkembangan cerita wayang kulit mengumpulkan konflik, klimaks, dan resolusi pada 3 jam terakhir, kurang lebih grafiknya seperti ini:

grafik

Otomatis, penonton terpaksa harus menghabiskan 6 jam untuk melihat set-up dari lakon (cerita).