KOMPAS Jawa Tengah
Sabtu, 13 Juni 2009 | 10:51 WIB

Tidak banyak generasi muda yang tertarik kepada wayang kulit. Wayang kulit selama ini identik dengan generasi lama atau orang tua, kuno, serta Jawa karena bahasa pengantarnya bahasa Jawa yang tidak populer lagi di kalangan generasi muda. Untuk menarik minat generasi muda, wayang kulit sebagai kesenian tradisional sebaiknya dipertunjukkan dengan sentuhan kreatif.

Dosen di Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada Yogyakarta yang juga pelestari kesenian wayang kulit, Eddy Pursubaryanto, Jumat (12/6), di Kota Semarang, mengatakan, kesenian tradisi harus selalu mengikuti perubahan dan tuntutan zaman agar dapat terus hidup dan bertahan.

“Ditonton tidaknya kan tergantung cara membawakannya. Jika tidak dapat berubah, maka sebuah kesenian akan mati,” ujar Eddy yang sering didaulat menjadi dalang.

Menurutnya, modifikasi yang membuat pertunjukan wayang kulit berbeda dari biasanya dapat menjadi daya tarik tersendiri. Untuk itu, unsur kekinian perlu dimasukkan sebagai bagian dari pertunjukan asalkan tidak mengubah substansinya. “Mulai dari musik, kosa kata, bahasa, maupun gaya humor yang terbaru dapat dimasukkan,” kata Eddy.

Rosalia Dini Dwi Nusita (20), mahasiswa Universitas Katolik Soegijapranata Semarang, mengatakan, wayang kulit dapat menjadi tontonan yang segar jika dikemas secara menarik. “Pertunjukan wayang kulit kan tidak harus dengan bahasa Jawa dan semalaman suntuk, tetapi bisa disajikan dengan cara lain agar tidak bikin ngantuk,” katanya.

Kedo Arya Aghasa (20), mahasiswa Unika Soegijapranata lainnya, juga mengakui, banyaknya tontonan seperti sinetron maupun film layar lebar bukanlah menjadi penghalang bagi wayang kulit untuk tetap dilestarikan. “Apalagi, pesan yang disampaikan lakon wayang kulit lebih mendidik dibandingkan sinetron dan film,” katanya.

Untuk menarik minat generasi muda terhadap wayang kulit, Dinas Kebudayaan, Pariwisata, Pemuda, dan Olahraga (DKPPO) Kabupaten Blora menggagas konsep wayang kontemporer remaja, serta membina dalang cilik dan remaja. DKPPO bekerja sama dengan Paguyuban Dalang Indonesia (Pepadi) Blora rutin menggelar program wayang kulit masuk sekolah

“Kami menjalin kerja sama dengan Jurusan Pedalangan Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta untuk mengemas wayang kontemporer yang diminati semua kalangan,” kata Kepala DKPPO Blora Pudiyatmo.

Pemerintah Kabupaten Temanggung tengah merintis program “Wayang Masuk Sekolah”. Kegiatan ini dilaksanakan dengan mementaskan wayang selama satu jam di sekolah.

Di Kabupaten Magelang, pemerintah kabupaten akan menggelar roadshow pementasan wayang kulit ke kecamatan-kecamatan mulai 2010. “Sasaran utama kegiatan ini adalah kelompok generasi muda dan anak-anak yang saat ini semakin jarang melihat pementasan wayang kulit,” kata Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Magelang Wibowo Setyo Utomo. (ilo/hen/egi)