SEMARANG & SEKITARNYA

12 Oktober 2009

Selamatkan Sobokartti dari Banjir

SEMARANG- Upaya merawat dan melestarikan bangunan cagar budaya Sobokartti terus dilaksanakan. Berbagai pembenahan agar bangunan yang dirancang arsitek Thomas Karsten di tahun 1920-an itu tetap berdiri, digiatkan pihak pengurus Perkumpulan Seni Budaya Sobokartti.

Menurut ketuanya, Ir Tjahyono Raharjo, gedung yang sekaligus berfungsi untuk ’’olah kesenian’’ itu rawan banjir. Selebihnya adalah bagaimana menata lingkungan agar kawasan itu jauh dari kesan kumuh dan jorok.

’’Upaya menata Sobokartti akan dikerjakan bertahap. Proyeknya mencakup pembenahan lingkungan dan sarana prasarana pendukung gedung,’’ katanya, Minggu (11/10) siang.

Terkat dengan lokasi yang sering banjir, dia menyebutkan, kini dibangun saluran air sepanjang 20 meter di sisi barat gedung. Saluran itu melengkapi gorong-gorong yang telah ada agar kawasan tersebut bebas banjir.

Luapan air, terutama berasal dari anak Sungai Banger, seringkali meluber ketika musim hujan. Banjir menjadikan aktivitas berkesenian terhenti, lantaran bangunan utama terendam air setinggi lutut orang dewasa.

Diharapkan pembangunan saluran bantuan Dinas Cipta Karya dan Tata Ruang Pemprov Jateng itu mampu mengatasi banjir yang muncul rutin setiap tahun.

Instansi yang sama sekaligus memberi bantuan fasilitas MCK. Fasilitas itu bisa digunakna sedikitnya 20 keluarga yang tinggal dan menempati (magersari) di kompleks Sobokartti. Selebihnya, fasilitas itu dipakai untuk pengunjung.

Bangun Gapura

Tjahyono yang didampingi Sekretaris D Sutrisno, menambahkan agar kesan estetika Sobokartti muncul, kini disiapkan pembangunan gapura menghadap ke arah selatan.

Gapura itu akan tersambung lurus dengan pintu masuk bangunan utama cagar budaya tersebut. Pintu masuk dengan model Mangkunegaran Solo itu sebenarnya pernah ada, namun ditutup setelah kawasan sebelah selatan dipakai pusat perbelanjaan.

Untuk mengembalikan aspek historis, maka sebagian tembok pembatas Sobokartti dan pusat perbelanjaan akan dijebol, kemudian dibangun gapura baru.

’’Mudah-mudahan dengan dibenahi seperti itu, banyak pengunjung yang bersedia datang lagi. Oleh Thomas Karsten dan Mangkunegoro VII, tempat ini memang untuk pusat kesenian Jawa,’’ tutur Tjahyono sembari mengemukakan Sobokartti mengalami era keemasan di tahun 80-an.

Tidak berhenti di situ, nantinya kompleks Sobokartti juga dilengkapi kios batik dan pusat koleksi keris (tosan aji). (H41-18)

© 2008 suaramerdeka.com. All rights reserved