Mei 2010


LATAR BELAKANG

Saat ini sering dikeluhkan bahwa generasi muda sudah tidak tertarik kepada wayang kulit.  Wayang kulit selama ini identik dengan generasi lama atau orang tua, kuno, apalagi bahasa pengantarnya bahasa Jawa yang tidak populer lagi di kalangan generasi muda. Di sisi lain, wayang kulit Indonesia oleh United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO) telah ditetapkan sebagai “Karya Agung Budaya Lisan dan Takbenda Warisan Manusia” (“Masterpiece of the Oral and Intangible Heritage of Humanity”). Ini membawa konsekuensi bahwa wayang kulit harus dilestarikan dan diteruskan kepada generasi yang akan datang. Tanggungjawab paling besar tentunya berada pada bangsa Indonesia sebagai pemilik wayang.

Berangkat dari kenyataan itu Perkumpulan Seni Budaya dan Gedung Cagar Budaya Sobokartti Semarang merasa terpanggil untuk berupaya memperkenalkan wayang kulit pada siswa sekolah dasar melalui pendekatan partisipatif. Pendekatan partisipatif ini dipilih karena lebih efektif daripada sekedar mengajak anak-anak untuk menonton pertunjukan wayang kulit, meski kelemahannya adalah tidak bisa melibatkan anak-anak dalam jumlah besar. Namun, diharapkan anak-anak yang relatif sedikit ini akan mempunyai apresiasi yang lebih baik terhadap wayang kulit, serta pengetahuan mereka tentang wayang kulit akan lebih terinternalisasi dan berkelanjutan.

TUJUAN

Tujuan Program Pengenalan Wayang Kulit pada Siswa SD kelas 3 – kelas 6 ini adalah untuk menumbuhkan apresiasi anak-anak pada wayang kulit sejak usia dini. Sebagai pewaris seni wayang kulit anak-anak ini di masa depan akan mempunyai peran yang sangat penting dalam melestarikan kesenian tersebut.

BENTUK KEGIATAN

Program pengenalan ini dibagi menjadi dua kegiatan pokok:

  1. Pengenalan umum pada cerita wayang yang bersumber pada Ramayana dan Mahabarata serta tokoh-tokoh utamanya.
  2. Pengenalan pada teknik memainkan wayang kulit. Dengan acuan lakon “Kangsa Adu Jago” yang berdurasi sekitar 2 jam serta telah disesuaikan dengan dunia anak-anak berusia 8 tahun sampai 12 tahun, peserta diperkenalkan pada berbagai pengetahuan dan ketrampilan yang harus dikuasai seorang dhalang.

Pada akhir kegiatan ini tidak diadakan ujian atau penilaian, tapi semua peserta berhak mendapatkan sertifikat yang menyatakan bahwa mereka telah pernah mengikuti kegiatan ini. Selain itu atas kesepakatan di antara peserta sendiri, peserta yang dianggap paling mampu di antara mereka akan menyajikan “Kangsa Adu Jago” pada penonton umum.

PESERTA

Peserta adalah siswa-siswa sekolah dasar atau sederajat yang duduk di kelas 3 sampai kelas 6 (usia sekitar 8 tahun sampai 12 tahun). Ditetapkannya usia minimal 8 tahun karena pada usia tersebut anak-anak sudah mampu membaca dengan baik.

WAKTU DAN TEMPAT PELAKSANAAN

Kegiatan ini akan dimulai pada Jumat, 18 Juni 2010 dan berlangsung selama 4 (empat) bulan. Kegiatan diadakan setiap hari Jumat sore antara jam 16.00 sampai 18.00 di Gedung Sobokartti, Jl. Dr Cipto No 31-33, Semarang

BIAYA

Untuk mengikuti program ini masing-masing peserta dikenai biaya Rp.25.000,- per bulan (total Rp. 100.000,- untuk 4 bulan).

INFORMASI/ PENDAFTARAN

D. Soetrisno (081 225 500 166) atau langsung ke Gedung Sobokartti Jalan Dr Cipto 31-33 Semarang.

PELAKSANAAN KEGIATAN

Kegiatan pengenalan telah dimulai pada 18 Juni 2010 diikuti oleh delapan orang anak.


Iklan

Pendahuluan

Pada 17 Agustus 1918 di Yogyakarta berdiri organisasi Kridha Beksa Wirama (KBW). Peristiwa itu menandai awal proses demokratisasi seni pertunjukkan di kraton Jawa. Pendirian KBW sendiri karena permintaan para pemuda/ pelajar yang tergabung dalam Tri Kara Darma (setelah 1918 berubah menjadi Jong Java) kepada Sultan Hamengkubuwana VII agar mereka boleh mempelajari kesenian kraton.

Ini tidak lepas dari suasana masa itu, ketika bibit nasionalisme mulai tumbuh di kalangan bangsa pribumi. Pemerintah kolonial menjalankan Politik Etis (“Etische Politiek”) yang diantaranya membuka kesempatan sedikit lebih luas bagi masyarakat pribumi untuk menikmati pendidikan modern. Muncul suatu kelompok terpelajar yang sadar dan bangga pada kebudayaan mereka (Furnivall, 1944; Larson, 1990). Di lain pihak, di kalangan orang-orang Belanda penganjur Politik Etis tumbuh minat untuk lebih mengenal dan mempelajari kebudayaan dan seni Jawa.

Hamengkubuwana VII memerintahkan dua tokoh kesenian kraton Yogyakarta, Pangeran Suryadiningrat dan Pangeran Tejakusuma untuk menyelenggarakan pendidikan tari dan musik kraton kepada masyarakat luas melalui KBW. Sultan sendiri memberikan dukungan finansial bagi kegiatan-kegiatan KBW. Sejak itu seni pertunjukkan yang semula hanya berkembang di dalam kraton, seperti tari bedhaya, srimpi, wireng dan wayang wong bisa dipelajari dan dinikmati masyarakat di luar kraton. Bahkan di Surakarta wayang wong mengalami komersialisasi dengan munculnya wayang wong panggung (Soedarsono, 1984).

Volkskunstvereeniging  Sobokartti

Menyusul berdirinya KBW di Yogyakarta, di beberapa kota muncul pula organisasi-organisasi sejenis. Di antaranya adalah Volkskunstvereeniging Sobokartti di Semarang yang diprakarsai antara lain Pangeran Prangwadana (Mangkunagara VII), Dr. Radjiman dan Ir. Thomas Karsten. Tanggal pendirian Sobokartti yang pasti tidak diketahui, tapi dalam surat keputusan Gubernur Jenderal Hindia Belanda September 1929 tentang perubahan anggaran dasar dan anggaran rumah tangga Sobokartti, disebutkan Sobokartti telah berdiri sejak 9 Desember 1920.

Tujuan pendirian Sobokartti: “De vereeniging stelt zich ten doel de bevordering van de inheemsche kunst en de verbreiding der waardering voor deze kunst onder alle bevolkingsgroepen en in het bijzonder de Inlandsche bevolking.” (“Perkumpulan ini bertujuan untuk mempromosikan seni asli dan menyebarkan apresiasi seni ini di antara semua bangsa dan terutama pada masyarakat pribumi.”)(Staatsblad van Nederlandsch-Indië 1929 – 50).

Kegiatan yang dilakukan antara lain pementasan, kursus, pameran, diskusi dan lain-lain. Kegiatan-kegiatan itu sampai sekarang masih tetap dilaksanakan Perkumpulan Sobokartti. Berdirinya Perkumpulan Sobokartti dengan ratusan anggota yang terdiri dari orang Jawa, Belanda dan Tionghoa tidak lepas dari keadaan Kota Semarang ketika itu. Semarang adalah kota pelabuhan yang progresif, dengan kehidupan intelektual yang dinamis dan tempat munculnya gagasan-gagasan dan pemikiran yang maju. Gerakan sosialisme di Hindia Belanda pertama kali muncul di Kota Semarang. Salah satu koran paling progresif dan berpengaruh di Hindia Belanda, De Locomotief, terbit di Semarang. Perencanaan dan pengelolaan kota Semarang (dan khususnya perumahan rakyat) ketika itu juga termasuk yang paling maju di Hindia Belanda (Furnivall, 1944).

Javaansche schouwburg Sobokartti

Pada 1919 Karsten telah membuat model prototipe gedung teater untuk pementasan kesenian Jawa yang telah mengalami proses demokratisasi. Karsten berpendapat bahwa melalui proses yang telah berlangsung sangat lama setting pendhapa tidak bisa dipisahkan dari seni pertunjukan Jawa. Seni pertunjukan Jawa (seperti umumnya seni pertunjukan di Nusantara) tidak mengenal pemisahan yang ketat antara penonton dan pelakon. Selain itu, koregrafi tarian Jawa dirancang untuk dinikmati dari semua penjuru (Brandon,  1967).

Sementara seni pertunjukan Barat justru berusaha menciptakan realitas baru atau dunia lain yang sepenuhnya terpisah dari penonton. Karena itu Karsten berpendapat panggung proscenium yang hanya bisa dinikmati dari satu sisi bukan tempat yang cocok untuk pementasan kesenian Jawa.

Meski demikian, pendhapa konvensional di istana dan rumah para bangsawan juga tidak lagi sesuai dengan perkembangan jaman. Kelemahan paling mendasar pendhapa konvensional sebagai suatu teater adalah karena faktor kenyamanan penonton, sama sekali diabaikan. Di mana penonton hendak duduk atau berdiri dan apakah mereka bisa melihat panggung dengan jelas tidak dipikirkan dalam rancangan pendhapa konvensional . Bagi Karsten ini sama sekali tidak bisa diterima justru ketika “kesenjangan sosial di masyarakat harus semakin dihilangkan” (Jessup, 1985).

Prototipe gedung teater Jawa (javaansche schouwburg) atau teater rakyat (volkstheater) ini diharapkan Karsten bisa menjadi acuan mendirikan gedung pertunjukan di berbagai tempat yang sesuai dengan karakter seni pertunjukan Jawa, sekaligus mengkoreksi kesenjangan sosial yang ekstrem di masyarakat. Sayang bahwa satu-satunya gedung teater seperti yang diimpikan Karsten itu yang sempat dibangun hanyalah Gedung Sobokartti di Semarang (diresmikan 10 Oktober 1931 (Anomim, 1931). Itupun dengan banyak mengalami penyederhanaan karena keterbatasan dana.

Namun, sebenarnya konsep yang mendasari rancangan Gedung Sobokartti ini masih sangat relevan untuk dipertimbangkan pada masa sekarang. Lebih-lebih ketika kita berteriak-teriak tentang perlunya “nguri-uri kabudayan” tapi dalam kenyataannya di Kota Semarang ini tidak ada tempat pementasan yang betul-betul sesuai dengan karakter seni pertunjukan Jawa dan sekaligus demokratis. Satu-satunya adalah Gedung Sobokartti, yang sayangnya saat ini rawan banjir akibat ketidakmampuan pihak-pihak yang berwenang mengatasi kerusakan lingkungan di Kota Semarang .

Tjahjono Rahardjo

Kepustakaan

Anonim (1931) Opening Javaansche Schouwburg Sabakartti, Karrenweg Semarang, 10 Oct ’31, Semarang: The Koei Liem

Brandon, James R. (1967) Theatre in South East Asia. Harvard: Harvard University Press.

Furnivall, J.S. (1944) Netherlands India: A Study of Plural Economy. Cambridge: At the University Press

Jessup, Helen (1985) “Dutch Architectural Visions of the Indonesian Tradition”, Muqarnas, Vol. 3, (1985), pp. 138-161

Larson, George D.(1990) Menjelang Revolusi: Kraton dan kehidupan politik di Surakarta 1912-1942, Yogyakarta: Gadjah Mada University Press

Soedarsono (1984) Wayang Wong: The state ritual dance drama in the court of Yogyakarta, Yogyakarta: Gadjah Mada University Press

Staatsblad van Nederlandsch-Indië 1929 – 50

Pentas Setu Legen 7 Mei 2010 di Sobokartti menampilkan dhalang Ki Anom Guwarso, alumnus Sobokartti, yang menyajikan lakon SANG SENA atau BIMA BUMBU. Sebelum pentas wayang kulit disajikan beberapa tarian oleh peserta kursus tari. Selain itu acara ini diliput secara lengkap oleh TV Cakra Semarang.

Pada 7 Mei 2010 Sobokartti mendapat kunjungan alumni SD Trisula Menteng Jakarta, angkatan 1968. Rombongan sekitar 30 orang ini dipandu Ibu Dewi Sadjarwo Tundjung, seorang alumnus yang tinggal di Semarang. Di Sobokartti para tamu menikmati suguhan klenengan gadhon, peragaan pembuatan batik Semarangan serta makan pagi soto Sobokartti.