Peran Dhalang Sebagai Komunikator Pembangunan [1]

Ki Manteb Soedharsono[2]

Saya sendiri sebenarnya tidak yakin benar dengan judul diskusi ini. Muncul pertanyaan dalam diri saya: apa sebenarnya yang dimaksud dengan pembangunan? Apakah pembangunan lahir atau pembangunan batin? Apakah yang hendak dibangun itu situasinya ataukah manusianya dan apa peran yang dituntut dari seorang dhalang?

Bagi seorang dhalang memikirkan hal-hal yang berkaitan dengan pedhalangan sebenarnya sudah merupakan pekerjaan berat, apalagi kalau masih harus ditambah ”tugas” menyampaikan misi pemerintah. Saya sendiri merasakannya ketika pada 1990 terbentuk Panitia Tetap (Pantap) DPD Ganasidi Jawa Tengah. Pantap ini terbentuk pada pemerintahan Gubernur Ismail dan bertahan sampai masa Gubernur Soewardi. Karena diprakarsai pemerintah, dhalang pada pagelaran Pantap selalu mendapat tugas menyampaikan pesan-pesan “pembangunan.” Mulai dari isu keamanan,  ketertiban, pertanian sampai masalah keluarga berencana dan sebagainya.

Pihak yang menitipkan pesan menghendaki pesannya disampaikan secara langsung, lugas dan jelas, menggunakan jargon-jargon pembangunan saat itu. Padahal, meski seorang dhalang terbiasa menyampaikan pesan-pesan moral (yang memang inheren terkandung dalam cerita wayang), tapi selalu dengan cara tidak langsung dan tersamar, sinamun ing samudana, sasadon ingadu manis.  Ketika itu perasaan saya tersiksa, meski saya akui saya menikmati penghasilan yang saya dapat dari pentas Pantap. Sebagai dhalang saya menghadapi dilema, yaitu pilihan antara mutu lan payu (mutu dan laku).

Keadaan sekarang tidak lebih baik. Dhalang direpotkan oleh berbagai pilkada, pilbup, pilgub dan sebagainya. Dhalang ditarik kesana dan kemari untuk mendukung kontestan yang bersaing memperebutkan posisi. Bila tidak hati-hati kita para dhalang ini akan terjebak dalam situasi yang menyulitkan.  Bila kita pentas untuk salah satu partai politik, bisa-bisa kita dimusuhi partai-partai politik lainnya, artinya kita tidak akan ditanggap mereka. Saya kira semua dhalang pernah, bahkan mungkin sering, mengalami hal semacam itu, jadi tidak perlu saya ceritakan panjang lebar. Saya hanya ingin berbagi dengan teman-teman dhalang yang hadir, bagaimana kiat saya bila menghadapi keadaan seperti itu.

Bila menghadapi situasi di mana saya diminta pentas untuk kampanya pemilihan bupati, walikota dan sebagainya, saya akan mensyaratkan harus bertemu langsung dengan figur bersangkutan. Saya katakan tidak akan mengangkat nama partai yang mendukungnya, tapi hanya akan mengangkat nama si tokoh itu. Saya juga katakan bahwa sebagai dhalang saya mempertaruhkan reputasi saya ketika mengangkat si tokoh, karena itu saya akan menagih bila setelah terpilih ia tidak memenuhi janji kampanyenya. Bila perlu dengan berdemonstrasi karena bagi saya yang lebih utama adalah kepentingan rakyat. Saya prihatin karena selama ini rakyat selalu menjadi korban.

Ini yang saya tawarkan sebagai kompromi antara mutu dan payu yang saya sebutkan di atas karena harus kita akui dhalang juga butuh uang. Apakah teman-teman dhalang akan mengikutinya atau tidak, saya serahkan sepenuhnya pada mereka. Sebagai catatan, umumnya partai-partai ingin tetap memunculkan identitasnya dalam pagelaran, sehingga sering pula kompromi yang saya tawarkan ditolak.

Tapi sebenarnya saat ini sulit sekali mempertemukan mutu dengan payu. Mutu dalam arti pentas yang menyuguhkan sanggit yang baik, cepengan yang bersih dan gendhing iringan yang bregas dan indah tidak dihargai oleh pihak-pihak yang menyelenggarakan pertunjukan wayang kulit, artinya tidak payu. Pertunjukan yang payu pastilah penuh guyonan, bertebaran bintang tamu, dan banyak diisi gendhing-gendhing dolanan. Tapi karena waktu habis untuk hal-hal yang tidak terkait langsung dengan cerita, mau tidak mau ceritanya jadi korban. Alur cerita menjadi tidak jelas, critané ora kecekel! Pernah ada pentas wayang kulit dengan lakon “Lairé Wisanggeni.” Gara-gara berlangsung sampai jam 3:30. Karena waktu sudah hampir habis, cepat-cepat gara-gara dilanjutkan perang Janaka dan Dewasrani dan langsung ditutup dengan tayungan. Bayangkan, sampai pentas selesai Wisanggeni tidak juga lahir!

Bagi saya lebih nyaman (dan aman) mendhalang di acara-acara seperti slametan, tetakan (khitanan), apitan, bersih désa dan sejenisnya. Termasuk pentas di acara Jumat Kliwonan yang diselenggarakan Teater Lingkar setiap selapan hari di TBRS ini. Dalam acara-acara itu tidak ada pesan pemerintah atau partai yang harus disampaikan sehingga masih mungkin bagi dhalang untuk mengembangkan mutu. Wayangan Jumat Kliwonan bagi saya merupakan kesempatan untuk mengeksplorasi dan memamerkan sanggit, gendhing dan crita. Saya bisa mendapatkan kepuasan, kemareman, karena tidak diributi pesan-pesan politik dan pembangunan.

Dalam situasi yang serba membingungkan seperti sekarang ini, saya sendiri tidak tahu apa yang harus kita lakukan. Justru saya berharap sarasehan ini bisa memberi jawaban bagaimana sebaiknya sikap kita.

Beberapa catatan dari sesi tanya jawab

  1. Wayang sebagai tontonan atau tuntunan

Sampai saat ini perdebatan tentang wayang sebagai tuntunan atau tontonan terus berlangsung. Bagaimana pendapat Pak Manteb sendiri terhadap hal ini?

Wayang adalah tontonan dan sekaligus tuntunan; keduanya tidak bisa dipisahkan. Tapi hal ini sangat tergantung kemampuan dhalang maupun kesiapan penontonnya. Bila dhalang mempunyai kemampuan untuk memberikan tuntunan dan penonton mempunyai kemampuan untuk menerimanya maka jadilah pagelaran wayang itu tontonan sekaligus tuntunan. Mengapa saya katakan faktor penonton menentukan? Karena dhalang dalam menyampaikan pesan, seperti saya katakan di atas, tidak ndublag seperti orang menyuapi bayi. Untuk bisa menerima atau memahaminya penonton harus mau berpikir. Dengan kata lain wayang adalah tontonan orang cerdas, bukan tontonan orang bodoh. Sebaliknya bila dhalang tidak mampu memberikan tuntunan atau penonton tidak siap menerima tuntunan, jadilah pagelaran wayang sekedar sebagai tontonan. Karena itu dhalang harus bisa membaca karakter penonton.

Selain sebagai tontonan dan tuntunan, wayang juga penuh dengan tatanan. Ini terkait dengan apa yang disebut pakem. Misalnya, untuk sasmita (aba-aba)  ayak-ayak, srepeg dan sampak ada kode berupa dhodhogan tertentu pada kotak yang mutlak tidak bisa ditawar karena sudah menjadi kesepakatan bersama. Di sisi lain, memang ada pakem yang lebih fleksibel sehingga masih memungkinkan penyesuaian tergantung keadaan.

  1. Pagelaran wayang dan olah rasa

Jaman sekarang orang menonton wayang dari sisi dhalang, yaitu dari sisi gatra (aspek fisik). Terkait dengan pembangunan, apakah ini artinya kita lebih mementingkan pembangunan lahir daripada pembangunan batin atau rasa? Untuk itu apakah tidak sebaiknya kita mulai lagi membiasakan menonton wayang dari sisi bayangan?

Sampai sekitar tahun 1959, ketika saya masih agak kecil, orang menonton wayang umumnya dari sisi bayangan. Yang menonton dari sisi dhalang hanya anak-anak. Ketika itu listrik belum sampai ke pelosok-pelosok seperti sekarang dan pertunjukan wayang masih banyak dilakukan di rumah-rumah. Sisi bayang-bayang menghadap ke bagian dalam rumah yang biasanyanya diterangi teplok (lampu minyak). Tapi ketika ada pentas wayang sering lampu di dalam rumah dimatikan dan satu-satunya penerangan adalah sinar blencong. Pertunjukan menjadi begitu indah hingga bisa nggugah rasa.

Saat ini, fokus pertunjukan bergeser ke sisi dhalang karena penonton ingin melihat bintang-bintang tamu, pesindhen, wayang prada emas dan gamelan yang digosok mengkilat. Pertunjukan wayang sekarang lebih menonjolkan aspek fisik dan kurang mengolah rasa. Namun, harus diingat pula bahwa menonton wayang dari sisi bayangan tidak selalu mampu nggugah rasa, karena ini juga tergantung kemampuan dhalang mengolah bayangan. Kalau dhalang tidak mempunyai kemampuan itu maka menonton dari sisi bayangan malah akan membuat bingung dan pusing. Kita hanya akan melihat wayang bekelebatan di layar tanpa makna. Memang tidak mudah untuk menghidupkan wayang dengan sabetan rasa. Jauh lebih mudah menjungkir-balikan wayang, misalnya, yang bisa dipelajari dalam waktu singkat.

Tidak berarti untuk menggarap aspek rasa kita harus kembali ke blencong. Dengan lampu halogen malah bisa diciptakan permainan bayangan yang dulu tidak mungkin dilakukan dengan blencong, sehingga membuka peluang lebih luas mengolah bayangan wayang.

  1. Lathi lan pakarti nyawiji (satunya kata dan perbuatan)

Indonesia sekarang menghadapi berbagai krisis, termasuk krisis keteladanan. Dhalang sebenarnya berpotensi untuk menjadi suri teladan bagi masyarakat, tapi ada sebagian dhalang yang mampu memberi pitutur luhur tapi perbuatannya sering tidak sesuai dengan ucapannya itu.Ini terkait dengan tanggungjawab moral dhalang baik di atas panggung maupun di luar panggung. Bagaimana komentar Pak Manteb?

Untuk mengetahui apakah seorang dhalang memang betul-betul menghayati pesan-pesan yang disampaikannya, kita harus melihat kehidupan sehari-harinya. Jangan hanya melihat apa yang dikatakan dan dikerjakan di atas panggung saja. Itu yang saya istilahkan “melihat dhalang di balik layar.”Dari situ kita bisa menilai apakah lathi lan pakarti nyawiji, apakah ucapan sesuai dengan perbiuatan.

Kalau sedang tidak pentas, saya membuat naskah, menciptakan sanggit-sanggit baru, terutama untuk lakon-lakon berat seperti Karna Tandhing, Dewaruci dan Ciptoning. Membuat sanggit baru itu tidak dilarang, bahkan perlu, asal logis dan ketemu nalar. Selain itu, saya merancang wayang-wayang baru seperti wayang Mamangmurka dan Kalasrenggi.

Memang sering ada kritik pada dhalang yang suka raben, yang gemar kawin cerai. Saya sendiri sudah menikah enam kali. Tapi harus dilihat apakah kawin cerai itu karena keadaan atau karena memang suka mengumbar hawa nafsu. Perceraian saya dengan isteri-isteri pertama sampai keempat adalah karena keadaan dan ketidakcocokan. Kemudian dengan isteri kelima saya menikah selama 27 tahun. Perkawinan kami bertahan karena memang ada kecocokan di antara kami dan ia sangat mendukung saya. Tapi ketika ia meninggal saya merasa perlu ada yang menggantikannya untuk menyemangati dan mendorong kreativitas saya. Kebetulan saya bertemu dengan isteri saya sekarang yang saya nikahi dua tahun lalu. Saya tidak pernah berpoligami, apalagi karena dhalang yang berpoligami tidak dibolehkan menjadi dhalang ruwat dan mementaskan lakon Murwakala.

Saya yakin dhalang yang punya adeg-adeg, yang teguh memegang prinsip, akan slamet dan kata-katanya akan digugu orang.



[1] Disarikan dari transkripsi diskusi oleh Tjahjono Rahardjo dan Bambang Supriyadi

[2] Disampaikan pada Sarasehan Pedhalangan 27 Maret 2008 di Taman Budaya Raden Saleh (TBRS) Semarang, diselenggarakan oleh Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kota Semarang.

3 Tanggapan to “Artikel”

  1. dono Says:

    nyuwun pangampunten, menawi kulo wayang menika sanes “tontonan lan tuntunan”, awit tontonan wayang mboten saged kangge tuntunan, sebabipun menawi tuntunan menika kedah gumathok,lan nutun dumateng kautamen, wayang mboten saged, malah kathah dhalang ingkang mboten mangertos sejatine dhalang piyambak, ingkang sejatine saged kangge tuntunan menika inggih kitab suci Agama, menawi wayang cekap tontonan ingkang adi luhung.

  2. ARIF Says:

    BETUL PAK, WAYANG ITU PENUH DENGAN NASEHAT-NASEHAT BAGUS TAPI TIDAK BISA UNTUK TUNTUNAN. KARENA DHALANGNYA SENDIRI TIDAK BISA UNTUK CONTOH SIH PAK, AKUR DEH !!

  3. Bambang Giatno Says:

    Pamanggih benten pendapat ngarteakaken wayang sebagai tontonan / tuntunan monggo, sing baku niku ayo pada nguri-uri budaya ingkang adilihing , wong wayang niku gegambaran ndonya kok , mboten sisah didamel polemik, sing penting do senengo nang wayang nek perlu nanggapo…, nek do nonton wayang sing dideluk gur limbukan karo goro-2 thok wae kok do ribut, coba nontono nganti tancep kayon…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s